loading...

Tuesday, December 4, 2012

cerpen cinta dan pengalaman hidup


Sinar Yang Tak Terbagi
Ketik semuanya menjdi saksi bisu untuk semua kisah ku. Tirai yang usang,debu yang berceceran di lantai semuanya bercerita tentang mu. Kehangatan rumah yang hanya terasa hanya sesaat saja bagi kami,kasih sayang yang tercurahkan hanya dalam hitungan bulan. Itu semua terkadang membut aku merasa iri dengan kehidupan normal yang dijalani teman-teman ku di luar sana. Hari-hari yag penuh tawa, candaan yang selalu menemani hari mereka,dan ruangan yang hangat pun dapat mereka rasakan setiap saat.Berbeda dengan aku, terkadang aku kesal dan terkadang pula aku bangga ditemani lelaki itu.
“Bang Rey”
Itulah panggilan yang selalu aku lontarkan.Lelaki muda dengan senyum yang enan tiasa menyapaku pagi hari.Lelaki muda tampan itu bernama Reyhan.Dia adalah seorang kakak sekligus seorang teman untukku.
Saat pagi datang,selalu ada satpol PP yang tidak pernah mengeluh membangunkan kami, disini terasa perlakuan yang beda antara aku dan abangku,terkadang hal itu membuat aku meneteskan air mata, namun hangatnya sang surya, merdunya kicauan burung dipagi hari dan senyum sapa yang diberikan untuk ku, itu yang menghapuskan kesedihan ku dikala pagi datang.
Akibat kesiangan aku tergesah-gesah untuk bernagkat ke sekolah, rambut yang tampak seperti singa bangun tidur, dasi yang hanya aku selempangkan saja, sampai-sampai untuk sarapan pun aku lupa. Abang pun heran penuh tawa melihat tingkahku pagi itu. “De sarapan dulu!” salah satu perhatian yangselalu ku dapat darinya “gak bang, Ade kesiangan, berangkat duluan bang” dengan percaya dirinya aku berlari berangkat kesekolah sembari menghbiskan roti di jalan.
Tidak mau kalah, suara ibu pun ikut menghiasi pagi kami.Hanya saja dia memberi kabar hanya lewat abang ku. Dari kecil aku memang merasa cemburu disaat  perhatian yang lebih dia berikan pada abangku,dari mulai fasilitas, bekal untuk sekolah, selalu berbeda antara aku dan abang. Permintaan abang selalu terpenuhi sedangkan aku? aku hanya mendapatkan barang bekas yang dipakai sama abangku. Jika aku menginginkan hal yang baru,jawaban yang terlontar dari mulut  ibu hanyalah “Sabar nak,belum waktunya”. Jawaban yang sedikit tapi begitu menusuk ku. Tidak hanya sekali duakali aku mengalami kedian seperti ini. Tapi bertahun-tahun aku harus meraskan itu.
Waktu pun berlalu,musim panas pun beganti,dan liburan telah menanti kami. Rutinitas yang selalu kami lakukan adalah menyusul ibu di Bogor. Rasa rindu hanya bisa kami apresiasikan saat liburan tiba. Aku dan abangku pun semangat untuk bertemu dengan ibu. Tetap saja hal yang membuat aku cemburu pada abang selalu mengganjal di fikiranku,dan hingga akhirnya,enatah apa yang memaksaku bertanya pada ibu “Bu” kataku.”Iya anakku” jawaban singkat dari ibu. “Ada hal yang mengganjal difikiran ku dan ingin sekali rasanya kutanyakan padamu” kataku pelan. Ibu melihat ke arah ku “tanyakan saja bila itu bisa membuatmu tenang”. Begitu semangatnya aku disertai rasa takut aku pun mengatakannya “Kenapa perbedaan yang selalu kau tunjukan,apa aku ini bukan anak mu Bu?”. Kali ini ibu berbalik dan menatap ku “Mungkin memang ini saat yang tepat untuk memberikan penjelasan padamu”. Aku lebih takut saat mendengar jawaban ibu, apakah hasil yang akan menggembirakan atau hasil yang akan membuatku terpuruk selamanya. Ibu melanjutkan menjawab “Abang mu memang jadi kebanggan ibu, tapi kau pun tak kalah membanggakan dari abang mu,semua yang ibu berikan menurut ibu itu sudah sesuai dengan porsi kalian”. Aku pun terdiam dan mencoba memahami jawaban itu.Lama aku terdiam dan hingga akhirnya aku pun sadar bahwa kasih saying ibu memang tidak pernah padam,semua yang dia berikan pada kami itu sudah sesuai dengan porsi yang kami butuh kan. Mulai detik itu rasa cemburu ku pada abang hilang bagai debu tersapu oleh angin . Aku bangga memiliki ibu sepertimu, dan entah dengan cara apa aku membalasa semua kebikan mu.
karya :  sri rahayu

loading...